×

Alih-alih Profesional, Kontraktor Proyek Royal Rp2,8 Miliar Justru “Sentil” Media dan Akui Kelalaian Teknis?

Alih-alih Profesional, Kontraktor Proyek Royal Rp2,8 Miliar Justru “Sentil” Media dan Akui Kelalaian Teknis?

KOTA SERANG, Globalwijaya.com – Respons mengejutkan datang dari pihak pelaksana proyek Pedestrian Jalan Juhdi (Royal). Bukannya memberikan penjelasan teknis yang komprehensif terkait dugaan beton yang dipasang di atas lumpur, pihak kontraktor justru melontarkan pernyataan emosional yang dinilai sebagai bentuk arogansi sekaligus menunjukkan lemahnya kompetensi teknis di lapangan.

Dalam rangkaian pesan singkat yang diterima Redaksi Globalwijaya.com, oknum perwakilan kontraktor terkesan “kebakaran jenggot” dan menantang jurnalis untuk turun ke lapangan guna mengajari para pekerjanya teknik konstruksi.

Mengakui Pasang Beton Saat Banjir?
Secara tidak langsung, pernyataan kontraktor yang berbunyi, “Jangan lihat pas kebanjiran saja,” dan “Supaya tau metode y salah apa bener,” seolah menjadi pengakuan telak bahwa pemasangan beton u-ditch memang dilakukan dalam kondisi area kerja yang tidak layak. Secara standar konstruksi nasional, pemasangan beton di atas air dan lumpur tanpa proses dewatering (pengeringan) adalah pelanggaran fatal yang merusak struktur stabilitas tanah.

“Jika kontraktor meminta media memberikan solusi teknis, ini aneh. Mereka dibayar Rp2,8 miliar dari uang rakyat karena mereka dianggap ahli. Kalau mereka justru menantang jurnalis untuk memberikan solusi, ini tanda tanya besar bagi publik,” ujar Tim Investigasi Globalwijaya.

“Suruh Kuliah sm Lw”: Rendahnya Standar SDM Kontraktor?
Yang paling menyita perhatian adalah saat pihak kontraktor meremehkan tim teknisnya sendiri demi menyindir media. Dalam percakapan tersebut, kontraktor menuliskan: “Gw panggil anak2 tehnik suruh kuliah sm lw,” dan “Santai anak2 msih pada s1 blm ad yg master tehnik.”

Pernyataan ini dinilai sangat merendahkan profesi teknik dan menunjukkan bahwa kontraktor tidak memiliki kepercayaan diri atas kualifikasi SDM yang mereka terjunkan dalam proyek strategis senilai miliaran rupiah tersebut. Bukannya menunjukkan sertifikasi keahlian, kontraktor malah terkesan menjadikan proyek publik ini sebagai tempat “belajar” yang berisiko bagi keamanan warga.

Warga Lansia Ketakutan: “Nanti Jatuh, Kaki Bisa Putus”
Kondisi semrawut di lapangan nyatanya bukan sekadar “dampak sementara” seperti yang diklaim kontraktor, melainkan ancaman nyata bagi warga. Seorang warga lansia yang tinggal tepat di depan lokasi proyek mengungkapkan kekhawatirannya saat hendak masuk ke rumah. Dengan kondisi galian yang menganga dan akses yang sulit, ia merasa keselamatannya terancam setiap hari.

“Pengennya diberesin, kalau kayak gini (kondisinya) takut jatuh. Sudah tua, kalau jatuh ke situ kaki bisa putus (terperosok),” keluh warga lansia tersebut dengan nada cemas saat ditemui di lokasi.

Keluhan ini menjadi tamparan keras bagi pelaksana proyek. Area depan rumah warga yang biasanya aman, kini berubah menjadi lubang galian yang dipenuhi air kotor tanpa pengamanan yang memadai, membuat mobilitas warga, terutama lansia, menjadi sangat berbahaya.

Arogansi di Balik Proyek Rakyat
Sikap kontraktor yang menantang media untuk “ikut nongkrong” pada jam 1-5 subuh juga dinilai sebagai upaya pengalihan isu. Tugas jurnalis adalah melaporkan fakta visual dan dampak yang dirasakan masyarakat—termasuk ketakutan warga lansia di atas—bukan menjadi konsultan teknik gratisan atau pengawas malam bagi perusahaan pemenang tender.

Lebih jauh, kontraktor terkesan defensif saat dikonfirmasi mengenai minimnya dokumentasi pemasangan yang benar. Alih-alih membuktikan pekerjaan sesuai bestek, mereka justru menyerang balik media dengan narasi seolah media hanya mencari kesalahan.

Dugaan Lemahnya Pengawasan DPUPR
Arogansi pelaksana lapangan ini memicu kecurigaan adanya “main mata” atau lemahnya pengawasan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Serang. Bagaimana mungkin proyek dengan anggaran fantastis dibiarkan dikerjakan oleh pihak yang bahkan secara terang-terangan meminta solusi teknis kepada pihak luar di tengah proses pengerjaan, sementara warga dibiarkan dalam ketakutan?

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Kawasan Royal masih harus bertaruh nyawa melewati galian dan jembatan seadanya, sementara pihak kontraktor lebih sibuk beradu argumen melalui pesan singkat daripada memperbaiki kualitas pekerjaan dan akses keselamatan warga sesuai standar nasional.

Laporan: Tim Investigasi Globalwijaya.com

Post Comment

You May Have Missed