Candi Cetho: Menjelajahi Wisata Bersejarah Peninggalan Kerajaan Majapahit – Angin Pedesaan Lawu

Serang, Globalwijaya, com.Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar — Berdiri megah di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut, Candi Cetho menjadi saksi bisu kejayaan akhir Keraj aan Majapahit. Berbeda dengan candi lain yang berjejer di dataran rendah, candi ini seolah menyatu dengan alam Gunung Lawu, selalu diselimuti kabut tipis, udara yang dingin menusuk tulang, dan angin sepo-sepoi yang membawa pesan damai dari puncak gunung.
Bukan hanya sebagai situs bersejarah semata, Candi Cetho kini menjadi tujuan yang hangat dikunjungi dari berbagai penjuru. Hal yang menarik, mayoritas pengunjung yang datang justru adalah pendatang dari luar daerah, dan banyak di antaranya adalah umat Muslim. Hal ini terlihat jelas dari pakaian yang mereka kenakan: berkerudung, berbusana sopan, hingga ada yang memakai jilbab dan gamis. Mereka datang bukan sekadar berwisata, melainkan untuk menghormati warisan leluhur, merenung, mencari ketenangan, hingga menikmati keindahan arsitektur berundak yang khas budaya Nusantara.
Angin yang berhembus di sini tak pernah berhenti bercerita—tentang persaudaraan lintas keyakinan, tentang warisan budaya yang menjadi milik kita semua, dan tentang pesona Desa Gumeng yang menyimpan harta karun sejarah di lereng Lawu.
Bersama Angin Pedesaan Lawu, mari kita lestarikan dan kenang jejak indah ini.
🔗 Tonton perjalanan lengkapnya: https://www.youtube.com/@AnginPedesaanLawu
🏷️ Hashtag
#CandiCetho ,PeninggalanMajapahit #GunungLawu ,Karanganyar #WisataSejarah ,AnginPedesaanLawu #KerukunanUmat,Beragama #DesaGumeng ,WisataJawaTengah #BudayaNusantara
🔑 Kata Kunci
Candi Cetho Karanganyar, suasana Candi Cetho berkabut, pengunjung Candi Cetho, sejarah Candi Cetho Majapahit, wisata lereng Gunung Lawu, Angin Pedesaan Lawu, kerukunan di Candi Cetho
(red,joko, arek)
Post Comment