Sorot Proyek Irigasi APBN Rp 100 Juta di Walantaka: Metode Kerja Asal-asalan dan Abaikan K3

SERANG, 25/06/2026. Globalwijaya.com – Pelaksanaan proyek Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier di Kelurahan Teritih, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, menuai kritik tajam. Proyek yang menelan anggaran APBN Kementerian Pertanian Tahun 2026 sebesar Rp 100.000.000,- ini dinilai dikerjakan dengan metode yang terkesan asal-asalan dan mengabaikan standar keselamatan kerja.
Hasil investigasi visual di lapangan mengungkap sejumlah kejanggalan krusial dalam proses konstruksi yang dinakhodai oleh Kelompok Tani “HEGAR” selaku pelaksana swakelola:

Pemasangan Batu Kali di Atas Lumpur Hidup: Pekerja kedapatan memasang batu kali dan menuangkan adukan semen langsung ke dalam saluran yang masih digenangi air dan lumpur aktif. Secara teknis konstruksi, metode ini berpotensi besar membuat daya rekat semen menjadi rapuh, cepat retak, dan rawan jebol saat dihantam debit air tinggi.
Kondisi Air Saluran yang Memprihatinkan: Aliran air di sekitar titik pengerjaan tampak sangat keruh, kotor, dan tersumbat sampah serta vegetasi liar di bagian hulu. Hal ini mengindikasikan tidak adanya pembersihan atau pengeringan lahan (dewatering) yang matang sebelum struktur penahan air dipasang.
Eksploitasi Pekerja Tanpa APD: Seluruh pekerja di lokasi dipaksa nyemplung langsung ke kubangan lumpur tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) mendasar seperti sepatu boots khusus konstruksi atau sarung tangan besi/karet. Hal ini jelas menabrak regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Meskipun plang proyek telah dipasang di titik koordinat -6,107435S 106,220977E sebagai formalitas pemenuhan Transparansi Informasi Publik, namun realisasi teknis di lapangan justru memperlihatkan minimnya pengawasan melekat dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Serang.
Masyarakat setempat mendesak instansi terkait dan aparat penegak hukum untuk segera mengaudit fisik proyek swakelola ini. Jika dibiarkan tanpa evaluasi total, dikhawatirkan proyek senilai seratus juta rupiah uang rakyat ini hanya akan menjadi proyek seremonial yang umurnya tidak akan bertahan lama.
(Dif*)
Post Comment