×

Dari Surabaya untuk Indonesia: Kurnianti Herdiandari Tempuh Program Doktor di UNY

Dari Surabaya untuk Indonesia: Kurnianti Herdiandari Tempuh Program Doktor di UNY

Globalwijaya| Yogyakarta – Sosok perempuan inspiratif asal Surabaya, Kurnianti Herdiandari, kini resmi menempuh studi doktoral di Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Kehadirannya di kampus UNY bukan sekadar melanjutkan studi, namun membawa misi besar untuk mengawal salah satu program strategis nasional: Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah isu nasional terkait implementasi dan kasus keracunan MBG di berbagai daerah, Kurnianti memilih topik disertasi yang sangat relevan dan solutif:

“Pengembangan Model Manajemen Implementasi Program Makan Bergizi Gratis Berbasis Pentahelix dalam Mendukung Mutu Layanan Pendidikan.”

Fokus Riset Disertasi yang disusun Kurnianti tidak berhenti pada tataran konseptual. Risetnya dirancang to the point menjawab tujuan utama kasus MBG dan BGN.

Fokus penelitiannya meliputi:

  1. Analisa Statistik Korelasi: Menghubungkan langsung analisa statistik korelasi dengan data disertasi statistik MBG dan BGN untuk melihat pengaruh implementasi MBG terhadap mutu layanan pendidikan, kehadiran siswa, dan konsentrasi belajar.
  2. Berbasis Data Resmi: Untuk menjaga validitas, seluruh data statistik keracunan makanan MBG diambil langsung dari sumber otoritatif nasional, yaitu, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan BPS (Badan Pusat Statistik).
  3. Model Pentahelix: Model yang ia kembangkan mengintegrasikan 5 pilar kekuatan bangsa:
  • Pemerintah (Government) sebagai regulator,
  • Akademisi (Academician) sebagai penyedia data dan evaluasi,
  • Bisnis/Dunia Usaha (Business) sebagai rantai pasok,
  • Masyarakat/Komunitas (Community) sebagai pengawas,
  • Media sebagai kontrol transparansi.

“Program MBG bukan hanya soal memberi makan. Ini adalah investasi mutu pendidikan. Jika manajemen implementasinya tidak kuat, tujuan mulia meningkatkan SDM unggul bisa terganggu. Melalui model Pentahelix, saya ingin memastikan MBG berjalan aman, akuntabel, dan benar-benar mendukung kualitas pembelajaran,” ujar Kurnianti Herdiandari.

Kurnianti Herdiandari dikenal luas di Surabaya sebagai tokoh perempuan yang luar biasa, yang aktif dalam gerakan sosial, pemberdayaan perempuan, dan advokasi pendidikan. Semangatnya untuk terus belajar di usia produktif menjadi inspirasi bagi banyak perempuan muda.

Pihak Program Studi Manajemen Pendidikan FIP UNY menyambut baik riset ini. Topik MBG berbasis Pentahelix dianggap sebagai terobosan yang dibutuhkan pemerintah saat ini untuk memperbaiki tata kelola program di lapangan, mulai dari hulu hingga hilir.

Dengan riset ini, UNY berharap dapat memberikan kontribusi nyata berupa blueprint model manajemen MBG yang tidak hanya aman dari risiko keracunan, tetapi juga berkelanjutan dan mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan nasional.

Keputusannya melanjutkan studi doktor di UNY, yang dikenal sebagai salah satu pusat unggulan Manajemen Pendidikan di Indonesia, menegaskan komitmennya untuk kembali memberikan kontribusi nyata bagi daerah asal dan Indonesia.

Penulis
Nuzulul Azmi.
Redaksi
Didi prayudi

Post Comment