Puluhan Tahun Minum Air Hujan, Warga Riung Barat Ngada Minta Pemerintah Segera Atasi Krisis Air Bersih

NGADA,NTT, Globalwijaya.com – Di tengah kemajuan pembangunan, masih ada masyarakat di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang hingga kini terpaksa mengandalkan air hujan sebagai sumber air minum. Kondisi tersebut dialami warga di Kecamatan Riung Barat yang mengaku telah bertahun-tahun hidup tanpa akses air bersih yang layak.
Salah seorang warga, Ronda, mengungkapkan bahwa selama ini dirinya bersama masyarakat setempat tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Tak ada air bersih, air hujan pun kami minum,” ujar Ronda kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh warga lainnya, AR (Ali Ranu). Menurutnya, kondisi tersebut bukan baru terjadi, melainkan telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya solusi yang memadai.
Akibat minimnya akses air bersih, warga juga terpaksa memanfaatkan air dari parit maupun sumur buatan yang keruh untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Bahkan saat musim kemarau, sebagian warga harus bertahan beberapa hari tanpa mandi karena sulit memperoleh air.
“Sudah bertahun-tahun kami minum air hujan. Untuk mandi dan mencuci pun kami menggunakan air hujan atau air sumur yang keruh,” keluh AR.
Warga mengaku kecewa karena hingga kini belum merasakan perhatian serius dari pemerintah terhadap persoalan yang mereka hadapi.
Meski demikian, warga mengakui pernah menerima bantuan berupa satu unit profil tank berkapasitas 1.000 liter sebagai tempat penampungan air. Namun menurut mereka, bantuan tersebut belum menjawab kebutuhan utama masyarakat.
“Yang kami butuhkan adalah air bersih, bukan hanya tempat penampungannya. Tapi kami hanya warga biasa, jadi kami terima saja,” tutur Ronda dengan nada haru.
Di tempat terpisah, mantan Kepala Desa Ria, Nurdin Dari, menjelaskan bahwa sebenarnya terdapat beberapa sumber mata air berdebit besar di wilayah Riung Barat. Salah satunya adalah Mata Air Gakek yang berada di Desa Wate, Kecamatan Riung Barat.
Menurut Nurdin, mata air tersebut mengalir sepanjang tahun dan mampu mengairi areal persawahan masyarakat. Namun hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber air bersih bagi warga.
“Di daerah kami ada Mata Air Gakek dengan debit air yang sangat besar. Airnya mengalir sepanjang tahun, tetapi belum tersentuh program pemerintah sehingga terbuang begitu saja,” jelas Nurdin.
Ia menambahkan, memang pernah dibangun dua unit sumur bor beberapa tahun lalu. Namun kapasitasnya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat, sehingga warga tetap bergantung pada air hujan.
Nurdin berharap Pemerintah Kabupaten Ngada maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera mengambil langkah nyata dengan memanfaatkan sumber mata air yang ada agar dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi NTT agar masyarakat Riung Barat dapat menikmati air bersih sebagaimana masyarakat di daerah lain,” harapnya.
Kondisi yang dialami masyarakat Riung Barat menjadi potret masih adanya ketimpangan akses terhadap kebutuhan dasar di sejumlah wilayah Indonesia. Warga berharap persoalan air bersih yang telah berlangsung bertahun-tahun ini segera mendapat solusi konkret sehingga mereka tidak lagi bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
(Red/hermianus)
Post Comment