×

Para Pendekar PSCP: Pencucian Mori, Tradisi Luhur Penyucian Diri di Sub Gender Jumantono Cabang Karanganyar

Para Pendekar PSCP: Pencucian Mori, Tradisi Luhur Penyucian Diri di Sub Gender Jumantono Cabang Karanganyar

KARANGANYAR | Globalwijaya.com – JUMA NTONO. Sebagai wujud pelestarian nilai luhur dan tradisi persaudaraan, keluarga besar Pencak Silat Cempaka Putih (PSCP) Sub Gender Jumantono, Cabang Karanganyar yang bernaung di bawah Pusat Magetan, kembali menggelar kegiatan sakral Pencucian Mori. Upacara adat ini dilaksanakan setiap tahun, bertepatan pada tanggal 1 Suro, menjadi momen istimewa dan sangat dinanti oleh seluruh anggota, pendekar, dan pengurus perguruan.

Pencucian Mori bukan sekadar seremonial biasa, melainkan sebuah prosesi penyucian diri yang mendalam, sarat makna filosofis dan spiritual. Dalam tradisi ini, “mencuci mori” dimaknai sebagai upaya mencuci dan membersihkan diri secara jasmani maupun rohani. Para pendekar dan anggota diajak untuk membuang segala sifat buruk, membersihkan hati dari niat yang tidak baik, serta menyucikan jiwa agar kembali murni, bersih, dan siap menjalani kehidupan serta mengamalkan ilmu bela diri dengan hati yang jernih.

Simbol utama yang dijunjung tinggi dalam perguruan ini adalah Bunga Mawar Merah Putih. Lambang ini memiliki arti yang sangat dalam dan menyentuh jati diri setiap anggotanya: “Darah Merahku, Darah Putihku”. Maknanya adalah persatuan, keberanian, kesucian, dan pengabdian, di mana setiap tetes darah yang mengalir di tubuh pesilat Cempaka Putih adalah darah persaudaraan, darah keberanian membela kebenaran, dan darah kesucian yang menjaga kehormatan diri, perguruan, serta bangsa.

Sebagai cabang yang bernaung di bawah Pusat Magetan, Sub Gender Jumantono senantiasa menjaga keteguhan hati dan ketaatan pada nilai-nilai warisan leluhur. Kegiatan Pencucian Mori ini menjadi pengingat bahwa menjadi pesilat bukan hanya tentang kuat fisik dan mahir teknik bela diri, namun lebih utama adalah kemurnian hati, akhlak mulia, dan keseimbangan antara kekuatan lahir dan kekuatan batin.

Dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan khidmat, seluruh peserta berkomitmen untuk menjaga tradisi ini tetap lestari dari generasi ke generasi. Pencucian Mori di awal tahun Suro ini menjadi tonggak awal, momen untuk berbenah diri, mempererat tali persaudaraan, dan kembali meneguhkan tekad: menjadi pendekar yang tidak hanya tangguh di medan latihan, namun juga suci hatinya, mulia budinya, dan bermanfaat bagi sesama, sesuai dengan cita-cita luhur PSCP.

Semoga semangat penyucian diri ini terus menyala, menjadikan setiap anggota Cempaka Putih sebagai insan yang bersih jiwanya, teguh pendirianya, dan abadi persaudaraannya. Jasmani Kuat, Rohani Suci, Persaudaraan Abadi.

Red/Joko are

Post Comment

You May Have Missed