Orang Yang kaya Hati/Jiwa Adalah Orang Yang tidak Tamak/ Rakus Harta & Cinta Dunia.

Oleh: C2P Azhar (Advokat & Akademisi)
قال أحمد هدايات:
ليس الغنيُّ بكثرة المال ولكنّ الغنيَّ بكثرة العطاء ولو قلّ ماله. وليس المسكينُ بقلّة المال ولكنّ المسكينَ بقلّة العطاء ولو كثُر ماله.
“Orang kaya bukanlah yang banyak hartanya melainkan yang banyak/sering berbagi meskipun sedikit hartanya. Sedangkan orang miskin bukanlah yang sedikit hartanya melainkan yang sedikit/jarang berbagi meskipun banyak hartanya”. A. Hidayat.
Teringat Kisah Tsa’labah mengingatkan kita bahwa miskin hati adalah kondisi dimana hati resah dan gundah serta tidak tenang kerena cinta dunia (tamak/rakus) yang berlebihan sementara kaya jiwa/hati adalah merasa cukup (qanaah) dan selalu berbagi. Sebagaimana kisah Abdurrahman bin Auf dan Utsman Bin Affan sahabat nabi yang kaya hati/jiwa. ujar Cecep Azhar
Merujuk Surat Al- Humazah ayat 1-7 Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilempar ke dalam Huthamah.
Surat At-Taubah ayat 34 -35 ancaman bagi orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah.
Surat Muhammad ayat 38 Dan siapa yang Bakhil sesungguhnya hanyalah dia Bakhil terhadap dirinya sendiri
Surat Ali Imran ayat 180 sekali-kali janganlah orang-orang Bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunianya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.
Berdasarkan hadist (HR Ibnu Majah No. 4137, Imam Bukhari No. 6446 dan Imam Muslim No. 1051 : Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati (jiwa).
Menurut Para Ulama orang yang kaya hati adalah mereka yang selalu merasa cukup bersyukur dan tidak rakus terhadap dunia sehingga mereka mudah berbagi.
Kisah Tsa’labah bin Hathib adalah seorang sahabat nabi yang awalnya miskin namun sangat rajin berjamaah di masjid. ia meminta doa kepada Rasulullah agar menjadi kaya. Rosulullah awalnya menolak, namun karena Tsa’labah mendesak, beliau akhirnya mendoakannya. Setalah kaya Tsa’labah justru berubah, ia menjadi sombong jarang ke masjid dan menolak membayar Zakat saat urusan Rosulullah datang mengambilnya. kekayaannya justru membuatnya Miskin jiwa kerena kikir dan ingkar.
Kisah Tsa’labah tersebut menjadi ibrah bahwa harta tidak menjamin kekayaan jiwa. Seseorang yang kikir, meskipun memiliki kebun kurma yang luas (harta) jiwanya hampa karena tidak memiliki rasa syukur dan kepedulian sosial yang digambarkan sebagai miskin hati/jiwa.
Berbeda halnya dengan sahabat Nabi yang kaya hati/jiwa seperti Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan juga kaya raya, namun mereka justru menangis atau khawatir dengan harta mereka, sehingga mereka semakin giat bersedakah, bahkan membiayai perjuangan Islam. Kekayaan mereka ditangan bukan di hati.
Post Comment