×

“Hari ini Dunia Adalah Nyata dan Akhirat Hanya Cerita. Tapi, Setelah Mati, Dunia Hanya Cerita, Akhirat Jadi Nyata.”

“Hari ini Dunia Adalah Nyata dan Akhirat Hanya Cerita. Tapi, Setelah Mati, Dunia Hanya Cerita, Akhirat Jadi Nyata.”

Oleh: C2P Azhar (Advokat & Akademisi)

Globalwijaya.com.- Dalam ajaran Islam dikatakan bahwa kematian merupakan pintu perpindahan alam dimana dunia yang nyata berubah menjadi sebuah kenangan sedangkan akhirat menjadi kenyataan hakiki yang kekal. Sedangkan barzakh menjadi perantara dimana manusia mulai mempertanggungjawabkan perbuatannya sebelum kebangkitan di hari kiamat. Segala amal baik dan buruk akan ditimbang secara adil oleh Allah SWT.

Anggapan akhirat hanya cerita adalah sikap yang di bantah keras atau di kritik oleh Al-Qur’an yaitu QS. Al-Muthaffifin ayat 13 yaitu orang kafir menganggap hari kebangkitan dan akhirat hanyalah dongeng /cerita bohong. QS. Al-Hajj Ayat 7 yaitu Manusia sering menganggap dunia ini nyata dan akhirat itu jauh atau tidak ada sehingga mereka mendustakannya.

Kemudian pernyataan bahwa dunia adalah kehidupan nyata sebagai bentuk pengingkaran digambarkan dalam al-quran tersebut diatas sebagai sikap orang-orang yang sering melalaikan dan atau orang-orang kafir. Hal yang seperti itu digambarkan seperti orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, Al-quran surat Al-An’am ayat 32 yaitu menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan Senda gurau sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.

Islam megajarkan bahwa akhirat lebih baik dan kekal. Dunia hanyalah tempat menanam perbuatan yang hasilnya akan dipanen di akhirat, sebagaimana ungkapan ahli hikmah sebagai pengingat untuk tidak terlalu mengejar dunia dan lebih fokus menyiapkan diri menghadapi akhirat. Menurut Ulama KH. Hendra Zainuddin Al-Qodiri menyatakan bahwa dunia adalah tempat beramal (ladang Akhirat) yang bersifat sementara.

Dalam konteks hukum Islam modern menegaskan bahwa tujuan hidup bukan untuk mengumpulkan harta dunia melainkan mempersiapkan diri untuk kenyataan hakiki (akhirat). Sebagaimana diungkapkan oleh para tokoh-tokoh pembaharu atau pemikir tasauf-rasional seperti Hasan Basri menyatakan bahwa kematian adalah penyingkap tabir, dimana semua hal di dunia akan tampak seperti cerita atau mimpi dan akhirat menjadi kenyataan. Sayyid Qutub dalam tafsirnya Fii Zhilali Qur’an menyatakan bahwa kehidupan dunia hanyalah bayang-bayang yang fana, sementara realita sejati dan kekekalan hanyalah ada di akhirat.

Berdasarkan hukum keluarga dan sosial yaitu mendorong manusia untuk mengutamakan Rida Allah daripada perhatian manusia. serta memanfaatkan sisa umur untuk ketaatan karena dunia tidak akan dibawa mati melainkan amal yang akan menolong diakhirat. Kematian adalah takdir Allah yang merupakan awal dari kehidupan sejati.

Salah satu kisah yang paling masyhur terkait sahabat nabi yang menegur orang yang mementingkan dunia tanpa memandang akhirat seperti kisah Abu Dzar Al-Ghifari ra terhadap penguasa atau orang kaya yang menimbun harta. Beliau dikenal sebagai sahabat nabi yang sangat Zuhud dan keras dalam menegur perilaku yang hanya berfokus pada kemewahan duniawi. ada pula kisah Tsa’labah bin Hathib seorang sahabat yang awalnya miskin namun menjadi kikir dan lalai ibadah setelah doanya dikabulkan Allah untuk menjadi kaya, yang sering dijadikan pelajaran tentang bahaya Hubbud dunia.

Kita lihat Pendiri republik Islam Iran Ayatullah Khomeini dikenal sebagai pemimpin yang menjalani gaya hidup sangat sederhana dan Zuhud. bahkan setelah ia memegang kekuasaan tertinggi Khomeini menolak tinggal di istana, ia memilih tinggal di sebuah rumah sederhana di kawasan jamaran teheran Utara, rumah tersebut terdiri dari dua kamar kecil dan berdampingan dengan masjid tempat ia menerima tamu. Beliau juga dianggap sebagai simbol harapan rakyat Iran memandangnya sebagai harapan baru berbicara tentang keadilan, iman dan harga diri bangsa serta membedakannya dari rezim monarki yang sebelumnya berkuasa.

Pernyataan dan kisah tersebut diatas mencerminkan pandangan filosofis dan teologis tentang hakikat kehidupan yang sering dikaitkan dengan perspektif sufisme dan eskatologi Islam dimana dunia dipandang fana (sementara) dan akhirat baka (kekal).

Islam tidak melarang mencari dunia namun melarang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, dunia seharusnya dijadikan wasilah untuk menanam amal untuk di panen diakhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa kehinaan akan ditimpakan kepada umat Islam yang terjebak wahn (cinta dunia dan takut mati) dan tidak akan dicabut sampai mereka kembali kepada ajaran agama mereka. Allah SWT berfirman orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.

Red***

Post Comment

You May Have Missed